Sang Pelita Yang Menghias Cakrawala Indonesia

20160430_190144-1[1]

Garuda merupakan perusahaan penerbangan milik negara paling tua di Indonesia. Berdiri sejak 26 Januari 1949. Masa kepemimpinan Mulyono sebagai orang nomor satu di Garuda di saat iklim bisnis penerbangan dunia tidak dalam kondisi baik. Setelah dilantik sebagai Direktur Utama Garuda, Mulyono sudah sangat menyadari bahwa dirinya adalah outsider. Di masa Mulyono berdatanganlah sejumlah armada baru, seperti pesawat MD-11, Boeing 747 seri 400, serta Boeing 737 seri 300. Semua kedatangan pesawat tersebut tidak ada yang langsung melibatkan Mulyono di masa kontrak awalnya. Jadi, Mulyono hanya meneruskan kebijakan sebelumnya dengan disesuaikan dengan kebutuhan riil pada saat itu. Pak Mulyono di sini sangat pandai memanfaatkan kedekatannya dengan kepala Negara yang pernah ia kenalnya sejak lama. Ia memanfaatkan kedekatannya tersebut secara positif, sehingga misi yang diembannya di manapun ia berada, menjadi terwarnai dengan positif.

MANUSIA

Lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada 17 Juli 1934, hidup Wage Mulyono kecil sempat berpindah-pindah mengikti tugas yang diemban ayahnya sebagai pemilik jalan. Masa sekolah dasarnya ia tempuh di wangon dan Gombong dan pendidikan sekolah menengah pertamanya sempat tertunda karena adanya agresi militer yang dilancarkan tentara colonial Belanda. Lulus dari SMP di Gombong, Mulyono masuk ke SMA di Yogyakarta. Pada masa inilah, guru dan teman-temannya member tambahan nama Wage di depan nama Mulyono. Karena, ada dua siswa yang bernama Mulyono dikelasnya.

Lulus dari SMA, Mulyono sempat ingin kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tapi kemudian malah terdampar di fakultas ekonominya. Di sana, ia kuliah selama dua tahun sebelum akhirnya masuk ke AURI agar dapat bersekolah gratis. Namun, justru di AURI-lah jalan hidupnya seakan menemukan pintu kemajuan.

Setelah menjadi penerbang transport di Skuadron 2, kepiawaiannya membawa pesawat transport mengantar Mulyono menjadi penerbang Skuadron 17/VIP/VVIP. Ia dipercay menjadi pilot kpresidenan dan kemudian juga menjadi Komandan Skuadron 17. Lepas dari sana, Mulyono diangkat menjadi ajudan Presiden Soeharto dan kemudian menempuh pendidikan di Seskoau. Setelah itu mulailah Mulyono berkarir di jalur sipil. Ia diminta Presiden Soeharto untuk masuk ke Pelita Air Service, mulai sebagai penerbang sampai akhirnya menjadi direktur utamanya. Di bawah kepemimpinan Mulyono, Pelita mengalami kemajuan yang luar biasa. Dari pelita, Mulyono diminta oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Direktur Utama Garuda, sejak 1992 samapai tiba masa pensiunnya pada tahun 1995.

Kesedihan mendalam yang dirasakan Mulyono, juga kakak dan adiknya, ketika ibu mereka yang tercinta menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi, beberapa hari setelah Ibunya wafat, beliau benar-benar merasakan kehilangan dan mencari-cari ibunya. Melihat kejadian itu, mah-mbah mereka juga tak bisa menahan perasaan sedihnya. Akhirnya Mulyono beserta kakak-kakak dan adiknya pun diasuh oleh para mbah mereka, anak-anak itu pun perlahan-lahan dapat melupakan kedudukan yang mereka alami.

Penampilan Wage Mulyono yang jarang bicara, kalem, boleh jadi merupakan modal tersendiri baginya untuk membina keluarganya dengan baik. Tapi, di balik minimnya berbicara dengan istri dan anak-anak, Mulyono sebenernya merupakan sosok ayah yang keras. Saking kerasnya, semasa di AURI, istrinya Sri dilarang mengikuti perkumpulan istri AURI (PIA Ardhya Garini). Padahal, lima tahun pertama perkawinan mereka belum dikaruniai anak. Jadi, Sri lebih banyak tinggal di rumah. Jadi, semenjak menikah (1962) dan lima tahun kemudian dikaruniai dua anak (1967 dan 1969) hingga mereka SMP, Sri lebih banyak disibukkan dengan urusan rumah dan kedua putrinya.

Suatu ketika, di saat seniornya Mulyono menjabat KSAU, Marsekal Ashadi Tjahjadi, istri KSAU berjumpa dengan Sri dan mengajaknya untuk turut aktif dalam PIAArdhya Garani. Nah, dalam suatu kesempatan, setelah usai acara Dharma Wanita, ketika ingin pulang, Sri dijemput oleh Mulyono dan anak-anaknya. Tapi, Mulyono lebih memilih diam. Sejak itu, Sri banyak berbagi waktu pula di luar rumah, seiring dengan pertumbuhan anak-anak memasuki masa remaja. Kemudian, ketika Sri mulai aktif mengajar di lembaga kursus bahasa inggris selama dua tahun (1985-1987), Mulyono juga menyuruh dia untuk berhenti. Boleh jadi, mulyono melihat perkembangan anak-anak yang semakin besar usianya perlu perhatian khusus.Sikap keras Mulyono, menurut Sri, seperti telah ada dalam diri suaminya sejak kecil.

Di mata anak-anak, Mulyono termasuk figure ayah sekaligus kepala rumah tangga yang tegas, keras dan tegar dalam mengarungi setiap kehidupan. Untuk soal pendidikan anak misalnya, Mulyono enggan untuk menunda mengurusnya. Menurut pandangan Sri, figure Mulyono adalah seorang ayah dan suami yang sangat loyal terhadap tugas pekerjaan yang dibebankan di pundaknya, apakah itu di AURI, ajudan presiden, Pelita, hingga di Garuda. Saking loyalnya sikap terhadap dirinya menjadi sangat konservatif. Artinya, Sri melulu hanya diserahi tugas mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Padahal Sri ingin mencari kegiatan lain. Sebab, background keluarga Sri memang memberikan banyak kesempatan bagi dirinyauntuk memiliki pergaulan luas.

HAKEKAT MANUSIA

Setelah Harjono selama delapan tahun memimpin Pelita tiba saatnya terjadi regenerasi kepemimpinan di perusahaan ini. Dan, pada 1 Mei 1978, dengan SK No.190/KPTS/IV/78 serta pertimbangan bahwa pimpinn yang lama telah melampaui usia pension diangkatlah Kolonel (Penerbang) Wage Mulyono selaku Pelaksana Pimpinan Harian Pelita. Setahun kemudian, tepatnya pada 11 Agustus 1979, Mulyono dikukuhkan menjadi Direktur Utama Pelita., berdasarkan SK Direksi Pertamina No.374/KPTS/DP/VII/79 tanggal 20 Juli 1979.

Mulyono pun menerima tongkat estafet kepemimpinan di Pelita dengan sangat hati-hati. Sore harinya, setelah pelantikan, Mulyono langsung mengikuti acara buka puasa bersama dengan para karyawan Pelita. Mulyono berpesan bahwa ihwal pengangkatan dirinya selaku direktur utama di Pelita adalah berkat dorongan dalam segenap aparat di Pelita.

Di tengah lingkungan alam yang indah, Wage mulyono menghabiskan sebagian masa kanaknya. Mulyono kecil dikenal sebagai anak yang amat cerdik menangkap belut dan ikan lele. Menurut Mulyono, ia pada masa itu memamng seperti keranjingan menangkap ikan. di kediaman masa kecilnya banyang pantai yang memang menjadi kawasan rekreasi, apalagi ketika matahari mulai merayap ke peraduannya. Sebuah senja nan indah menghias langitnya.

Hubungan dengan kru penerbang Pak Mul sangat dekat. Menurut kawannya Pak Mul sangat keras. Suatu hari kawannya yang bernama Edy Joewono dipanggil ke rumahnya, dari situ Pak Mul trgas tapi hubungannya sangat manusiawi. Hubungan atasan-bawahan tetap dijaga dengan baik. Yang jelas, Pak Mul itu disiplin kuat, tegas dan cenderung agak pendiam. Tapi kalau lagi moodnya bisa cerita banyak.

Masa kepemimpinan Mulyono sebagai orang nomor satu di Garuda di saat iklim bisnis penerbangan dunia tidak dalam kondisi baik. Setelah dilantik sebagai Direktur Utama Garuda, Mulyono sudah sangat menyadari bahwa dirinya adalah outsider. Di masa Mulyono berdatanganlah sejumlah armada baru, seperti pesawat MD-11, Boeing 747 seri 400, serta Boeing 737 seri 300. Semua kedatangan pesawat tersebut tidak ada yang langsung melibatkan Mulyono di masa kontrak awalnya. Jadi, Mulyono hanya meneruskan kebijakan sebelumnya dengan disesuaikan dengan kebutuhan riil pada saat itu. Pak Mulyono di sini sangat pandai memanfaatkan kedekatannya dengan kepala Negara yang pernah ia kenalnya sejak lama. Ia memanfaatkan kedekatannya tersebut secara positif, sehingga misi yang diembannya di manapun ia berada, menjadi terwarnai dengan positif. Singkatnya, karena Pak Mulyono banyak menyumbangkan tugasnya di bidang kedirgantaraan.

Pak Mul sangat senang berolahraga. Sementara Pak edy tidak. Seperti saat trebang ke Yogya bersamanya. Pak Mul ajak beliau untuk jalan-jalan dan mengingatkannya agar membawa sepatu untuk keliling Yogya.

Hampir dua tahun, Mulyono menekuni pendidikan di Seskoau ketika komandan sekolah ini memanggil dirinya untuk segera memenuhi panggilan kepada Negara yang membutuhkan penerbang di pesawat kepresidenan. Mulanya ada rasa kesal dalam benak Mulyono saat Presiden Soeharto menyuruh dia untuk kembali menerbangkan peswat kepresidenan menuju Yogyakarta.

Masa kepemimpinan Mulyono sebagai orang nomor satu di Garuda di saat iklim bisnis penerbangan dunia tidak dalam kondisi baik. Situasi pasca Perang Teluk yang menjadikan kelesuan dalam bisnis penerbangan dampaknya masih tersisa. Setelah dilantik sebagai Direktur   Utama Garuda. Mulyono sudah sangat menyadari bahwa dirinya adalah outsider. Makanya, Mulyono tidak melakukan perubahan yang drastic. Ia mempelajari dengan sangat hati-hati kebijakan dari kepemimpinan sebelumnya. Ia juga menghitung waktu masanya beradu di Garuda yang hanya tiga tahun.

Masa kepemimpinan Mulyono sebagai orang nomor satu di Garuda di saat iklim bisnis penerbangan dunia tidak dalam kondisi baik. Setelah dilantik sebagai Direktur Utama Garuda, Mulyono sudah sangat menyadari bahwa dirinya adalah outsider. Di masa Mulyono berdatanganlah sejumlah armada baru, seperti pesawat MD-11, Boeing 747 seri 400, serta Boeing 737 seri 300. Semua kedatangan pesawat tersebut tidak ada yang langsung melibatkan Mulyono di masa kontrak awalnya. Jadi, Mulyono hanya meneruskan kebijakan sebelumnya dengan disesuaikan dengan kebutuhan riil pada saat itu. Pak Mulyono di sini sangat pandai memanfaatkan kedekatannya dengan kepala Negara yang pernah ia kenalnya sejak lama. Ia memanfaatkan kedekatannya tersebut secara positif, sehingga misi yang diembannya di manapun ia berada, menjadi terwarnai dengan positif. Singkatnya, karena Pak Mulyono banyak menyumbangkan tugasnya di bidang kedirgantaraan.

Semasa SMA Pak Mul bersama temannya yang bernama Heri Sutoyoso suka bermain bola tangan. Dulu bola tangan itu popular. Karena mereka punya lapangan bola, sehingga bola tangannya lumayan banyak. Nah, di sekolahnya itu ada pohon cemara yang tinggi-tinggi. Itu lichting yang ditanam di sekeliling lapangan. Kalau sedang reuni yang dibacarakan seperti itu.

Pak Mul adalah sosok pria yang alim dan rajin beribadah. Selain itu , hubungan dengan kru penerbang Pak Mul sangat dekat. Kalau dari kawan-kawan yang beliau dengar pak Mul itu keras. Tapi beliau sendiri belum pernah dapat sanksi dari Pak Mul. Hubungan atasan-bawahan tetap dijaga dengan baik.

Melihat beban keluarganya yang begitu berat dari sisi ekonomi, karena keluarga dari orang tua Pak Mul jumlahnya banyak maka Pak Mul banting kemudi untuk bekerja saja. Ia mencoba meredam egonya, tapi sebaliknya berpikir jauh kedepan: bagaimana dapat belajar sekaligus bekerja demi keluarga besarnya sekaligus dirinya.

 KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR

Komitmen Pak Mul pada korps cukup kuat. Buktinya, saat menjadi Dirut Pelita Air Servece. Mulyono pernah menyumbangkan beberapa pesawat untuk AURI. Pak mulu juga orangnya suka bergurau dan cukup ramah. Tapi Pak Mul yang pendiam, tidak mudah dipengaruhi. Pak Mul mungkin ingin membantu dan membuat temannya mengetahui lebih banyak tentang Pelita, sehingga temannya relative dalam waktu sepuluh tahun saja pindah di sebelas tempat. Dalam rangka kerjasama antara Pelita Air Service dan PT. Travira Utama. Pelita Air Service harus diutamakan. Pak Mul tidak mau mengorbankan kepentingan perusahaan yang dipimpinnya demi untuk hubungan teman. Tidak pandang bulu. Jadi saya mengenai kedua sisi Pak Mul, sisi tegas yang business like dan sosok pribadinya.

PENGERTIAN KEBUDAYAAN

Di tengah lingkungan alam yang indah itulah Wage Mulyono menghabiskan sebagian masa kanaknya. Ketika kecil, Pak Mul paling senang mencari ikan dengan menggunakan sambar, yang terbuat dari anyaman bambu. Sambar itu seperti jala. Kalau alat ini dipakai, ikan yang kena besarnya rata. Dan di kalangan teman-temannya, Mulyono kecil dikenal sebagai anak yang amat cerdik menangkap belutdan ikan lele. Menurut Mulyono, ia pada masa itu memang seperti keranjingan menangkap ikan.

Meskipun masa kecil dihabiskan di Gombong, Mulyono sebenernya lahir di Banyumas, yang pada zaman Belanda itu merupakan sebuah keresidenan. Kini, setelah Indonesia merdeka, Banyumas menjadi sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Kelak, beberapa ratus tahun kemudian, Banyumas memiliki karakter budaya yang khas, yang dikenal dengan istilah budaya banyumasan. Kekhasan ini sedikit-banyaknya dipengaruhi oleh letak geografisnya, yang berbatasan dengan wilayah berbudaya Sunda dan berada di tepi Jawa Tengah yang penduduknya berbahasa Jawa. Itulah sebabnya bahasa Jawa Banyumas juga menjadi khas, berbeda dengan bahasa yang dipergunakan dipergunakan penduduk Jawa Tengah di wilayah lain.

Pada masa pergerakan mengusir penjajah Belanda, sebagian besar warga Banyumas juga dikenal sebagai patriot pembela bangsa. Mereka dengan gigih mengusir penjajah dengan senjata seadanya. Tak mengherankan jika dari kabupaten ini kemudian lahir perwira-perwira militer dan kepolisian pahlawan Tanah Air. Warga Banyumas juga terkenal menyukai dunia pendidikan.

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

Pak Mul adalah sosok yang alim dan rajin beribadah. Kakekny pun seorang pemuka agama Islam. Beliau termasuk orang yang suka membantu kawannya apabila menghadapi masalah. Di dalam pekerjaannya Pak Mul tidak membedakan antara atasan dan bawahan. Pak Mulyono di sini sangat pandai memanfaatkan kedekatannya dengan kepala Negara yang pernah ia kenalnya sejak lama. Ia memanfaatkan kedekatannya tersebut secara positif, sehingga misi yang diembannya di manapun ia berada, menjadi terwarnai dengan positif. Singkatnya, karena Pak Mulyono banyak menyumbangkan tugasnya di bidang kedirgantaraan. Kakek Mulyono bekerja sebagai lurah di Banyumas, namanya Penatus. Jadi Mbah Penatus itu sama profesinya dengan Mbah Glondong. Menurut Mulyono, hidup Mbah Penatus lebih baik daripada Mbah Glondong, yang berlatar belakang sebagai seorang seniman sekaligus pemuka agama Islam di daerahnya. Di Banyumas untuk menangkap ikan menggunakan sambar. Sambar itu seperti jala. Kalau alat ini dipakai, ikan yang kena besarnya rata. Banyumas memiliki karakter budaya yang khas, yang dikenal dengan istilah budaya banyumasan. Kekhasan ini sedikit-banyaknya dipengaruhi oleh letak geografisnya, yang berbatasan dengan wilayah berbudaya Sunda dan berada di tepi Jawa Tengah yang penduduknya berbahasa Jawa. Itulah sebabnya bahasa Jawa Banyumas juga menjadi khas, berbeda dengan bahasa yang dipergunakan dipergunakan penduduk Jawa Tengah di wilayah lain. Kini, setelah Indonesia merdeka, Banyumas menjadi sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Kelak, beberapa ratus tahun kemudian, Banyumas memiliki karakter budaya yang khas, yang dikenal dengan istilah budaya banyumasan.

WUJUD KEBUDAYAAN

Penampilan Wage Mulyono yang jarang bicara, kalem, boleh jadi merupakan modal tersendiri untuk membina keluarganya dengan baik. Sikap keras Mulyono, seperti telah ada dalam diri suaminya sejak kecil. Barangkali sikap keras tersebut sudah ada pengaruhnya ketika beliau semasa kecil ditinggal oleh ibunya. Karena pendidikan di mata beliau adalah nomor satu jadi, kalau soal pendidikan untuk sang anak juga harus dinomor satukan.

Selain itu dimasa kecilnya bapak Mulyono ini ingin anak-anak sekolahnya maju. Mereka berkumpul ketika liburan saja. Didikan itulah yang menjadikan Pak Mul menjadi seorang Pelita.

ORIENTASI NILAI BUDAYA

Dengan sikap yang sangat tegas dan pendiam, kalau memerintahkan sesuatu sangat berhati-hati untuk memberikan isinya. Beliau juga termasuk galak tapi, di luar tugas, beliau biasa-biasa saja. Mungkin sikap ini dilakukan untuk menjaga image beliau.

PERUBAHAN KEBUDAYAAN

Ketika di Garuda, Pak Mul memasuki masa berat yang dialaminya karena periode sebelumnya telah memesan pesawat dalam jumlah yang cukup banyak. Artinya, di masa kepemimpinan Pak Mulyono, gilirannya untuk membayar cicilan hutang pembelian pesawat tersebut yang sudah mulai jatuh tempo. Dengan bantuan sindikasi bank international Pak Mulyono beserta jajarannya dapat membiayai hutang tersebut.

Di era inilah Pak Mulyono melakukan perubahan wujud usaha Garuda yang semula marketing oriented dengan membutuhkan banyak biaya promosi menjadi lebih efisien untuk mengerem pengeluaran.

KAITAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Ayah dan Ibu Mulyono memiliki pandangan jauh ke depan terhadap anak-anaknya, terutama yang berhubungan dengan pendidikan anak-anaknya. Kedua orang tuanya bertekad menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Mereka pun ingin anak-anaknya mengeyam pendidikan yang lebih baik. Demi meraih pendidikan yang dianggap bermutu oleh kedua orang tuanya, Mulyono dan saudara-saudaranya memang rela berpisah, bahkan sejak kecil mereka hanya bertemu saat liburan panjang. Dengan tekad orang tua yang keras menjadikan Mulyono penerbang AURI. Tekad dari orangtua yang keras dalam pendidikan anak inilah yang ditanamkan Mulyono dalam mendidik anak-anaknya.

Sumber: Abriyanto, M, dkk. 2004. Menghias Cakrawala Indonesia: Biografi Wage Mulyono. Jakarta: Q-Communication

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s