Ali Sadikin “Sang Modernisasi Pembangunan”

ali sadikin

Letnan Jendral TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin (Bang Ali) lahir di Sumedang, 7 Juli 1927 adalah seorang gubernur yang sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Ia menjabat sebagai gubernur sejak tahun 1966 sampai tahun 1977.

soekarno-ali-sadikin-131220c

Pada Kamis pagi, 14 Agustus 2003 di Istana Negara dilaksanakan Penyematan Bintang Penghargaan. Tahun 1966, ia berdiri di depan Presiden Soekarno dalam upacara pelantikan Gubernur Jakarta. Dalam upacara yang khidmat selama 20 menit untuk menerima Bintang Mahaputra Adipradana. Istana Negara adalah tempat yang tidak pernah diinjaknya setelah ia dijuluki oleh para pemimpin Orde Baru sebagai pembangkang. Ia datang ke Istana Negara bersama istrinya, Linda Mangaan dan putra bungsunya, Yasser Umarsyah. Bang Ali, demikian ia akrab disapa, tidak menyangka mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana. Ia mendapat informasi bahwa ia dinilai patut menjadi tokoh symbol bagai pembinaan budaya dan pariwisata.

Di usia 39 tahun tatkala ia diberikan amanah usai menunaikan tugasnya sebagai Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Koordinator dalam urusan-urusan Maritim, serta Wakil Menteri diperbantukan pada Menteri Pembangunan Perekonomian dan Keuangan. Menurut Bung Karno, Ali Sadikin itu orangnya keras. Sikap demikian dianggapnya cocok untuk menata, membenahi dan mengurus kota yang demikian terpuruknya. Jakarta di masa awal gubernur asal Sumedang ini serba semrawut dari semua aspeknya dan memerlukan kedisiplinan. Ternyata pilihan Soekarno tidak salah. Jendral Angkatan Laut ini mampu menyulap Jakarta dari sekedar pusat pemerintahan menjadi pusat perdagangan sekaligus industry. Tetapi 10 tahun kemudian, dari tahun 1966 hingga 1977, Jakarta sudah ibarat gadis yang tengah berdandan. Ketika itu tumbuh puluhan bangunan bertingkat, pemukiman rumah mewah, jalan-jalan licin dan pohon-pohon pelindung dan gerakan penghijauan dari masyarakat. Proyek MHT, Kesenian, Budaya, Gelanggang Remaja, Puskesmas, Sekolah, Rumah Sakit dan lain-lain juga sarana, prasarana dan infrastruktur listrik, air dan semacamnya. Ia juga termasuk salah seorang penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismailserta berbagai bangunan bersejarah sepeti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum wayang serta mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda. Kendati demikian diakui oleh gubernur legendaris ini untuk menata semua itu muncul sikap pro kontra dari masyarakat Jakarta.

Sikap keras orang Sumedang, Jawa Barat ini bukan hanya ditujukan kepada aparatnya yang tidak berdisiplin. Ketika memimpin Jakarta selama 11 tahun, ia juga dikenal kuat mempertahankan prinsip. Ia membuat gebrakan dengan melegalisasi perjudian. Untuk mengisi pundi anggaran daerah. Ali juga nekat mengizinkan bar dan panti pijat. Yang penting baginya, ada dana untuk membuat mulus jalan-jalan di seluruh Jakarta. Wataknya yang keras masih tergambar pada kerutan-kerutan wajah Ali sadikin. Kondisi fisiknya mulai lemah. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan ia perlu memakai alat bantu dengar di telinga. Yang tidak pernah surut adalah semangatnya. Apalagi bila berbicara tentang Jakarta. Dia tak lelah menjelaskan dengan runtut dan detail berbagai program yang dijalankannya selama dua periode menjabat Gubernur Jakarta. Sebagai gubernur Jakarta waktu itu, Bang Ali juga memperhatikan kehidupan para artis yang telah lanjut usia di kota Jakarta yang pada wakti itu banyak bermukim di daerah tangki, sehingga wilayah tersebut diberi nama Tangkiwood. Di bawah pimpinan Bang Ali, kota Jakrta sering dijadikan tuan rumah untuk penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Tak hanya itu, kontingen DKI Jakarta juga sering menjadi juara umum.

Pada akhir masa jabatannya tahun 1977, ia meninggalkan uang di kas daerah sebesar Rp 89,5 miliar. Juga jalan-jalan yang mulus, penambahan ratusan pendidikan dan kesehatan, terminal bus dan pasar. Bang Ali juga mewariskan sejumlah bangunan penting seperti Taman Ismail Mrzuki bagi para seniman, dan gelanggang mahasiswa di daerah Kuningan. Ketika disinggung ia memiliki andil dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Ali sadikin meluruskan bahwa Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berdiri karena gagasannya bersama Ny Tien Soeharto. Sementara kawasan Ancol berasal dari gagasan Bung Karno, orang yang sangat dihormati dan disayangi. Taman Ismail Marzuki berdiri untuk mengenang Ismail Marzuki yang merupakn seniman dan pahlawan. Kebun binatang adalah salah satu tempat konsentrasi pariwisata.

Ketika Kota Jakarta genap berusia 475 tahun, tepatnya pada 22 Juni lalu, sebagian besar gedung itu telantar atau berubah fungsi. Sebagian areal gelanggang mahasiswa tersebut disulap menjadi pertokoan. Harapan untuk menjadikan Pusat Perfilman Usmar Ismail sebagai Hollywood-nya Indonesia pun tak terwujud.

Dulu Bang ali menjabat Gubernur DKI Jakrta sampai dua periode (1966-1977). Satu tahun pertama digunakan untuk menentukan dasar-dasar pembangunan. Baru pada tahun kedua bisa menjalankan visi, misi, dan program yang telah dibuat. Kebetulan pada saat itu dirinya tidak terbawa intensitas politik nasional, jadi bisa konsentrasi pada program. Tokoh-tokoh politik nasional sendiri saat itu perhatiannya sibuk menjatuhkan Soekarno dari kursi presiden.

Sejak tahun 1959 hingga 1977, Ali Sadikin memegang beberapa jabatan seperti Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan dan terakhir Gubernur Jakarta selama 11 tahun. Setelah tahun1977 namanya menjadi popular karena menjadi tokoh Petisi 50 yang menentang secar terbuka pemerintahan rezim Soeharto. Ia dicekali tetapi tidak pernah dipenjara atau diajukan ke pengadilan.

Dalam buku “Apa Siapa” terbitan Majlah Tempo, Ali Sadikin dipandang berjasa ketika memimpin ibukota Negara tersebut. “Ali Sadikin telah meletakkan dasar tertib pemerintahanyang sebelumnya tidak ada.” Demikian tulis majalah Tempo.

Selama empat tahun terakhir, ia tidak banyak melakukan kegiatan fisik. Kegiatan terakhir yang banyak dilakukan adalah mengkliping Koran dan menggarisi kalimat-kalimat di artikel Koran dengan stabilo.

ali_sadikin_inilah.com

Tepat pada hari Selasa, 20 Mei 2008, di usia 80 tahun, Bang Ali menghembuskan nafas terakhir di di Rumah Sakit Gleneagles di Singapura. Ali Sadikin meninggal setelah sebulan dirawat di Singapura dan meninggal karena berbagai komplikasi penyakit yang dideritanya. Bang Ali meninggalkan seorang istri yang merupakan istri kedua yang beliau nikahi setelah kepergian Mpok Nani yang terlebih dahulu, dan lima orang anak. Jenazah Bang Ali dimakamkan dengan upacara militer di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (20/5) pukul 13.00 WIB.

 

Sumber:

http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/620-paling-berjasa-membangun-jakarta

http://profil.merdeka.com/indonesia/a/ali-sadikin/

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/05/080520_alisadikin.shtml

https://metro.tempo.co/read/news/2008/05/21/057123412/ali-sadikin-dimakamkan-secara-militer

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s